Press "Enter" to skip to content

Terkait Perampasan Banana Boat Di Pantai Carita Banten, Berbuntut Panjang

Pandeglang, liputan12.com – Aksi perampasan sejumlah Banana Boat dipantai pasir putih carita Kecamatan Carita Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten pada hari Minggu 16 Mei 2021 oleh Polairut, berbuntut panjang.

Menurut keterangan, Salah satu perwakilan warga carita Agung Sulastyo yang biasa dipanggil (Tyo) mengatakan, kejadian berawal ketika sejumlah banana boat tengah membawa penumpang, namun tiba-tiba datang para personil polairut dengan menggunakan boat yang kemudian membubarkan para pengunjung yang sedang bermain banana boat ditengah laut dan melakukan perampasan 6 unit banana boat.

“Kejadian pada hari Minggu ketika sejumlah banana boat membawa penumpang ditengah laut tiba tiba para personil polairut datang untuk membubarkan mereka dan melakukan perampasan 6 unit banana boat.

Hal ini berkaitan dengan instruksi Gubernur tentang penutupan lokasi wisata diprovinsi banten, kami dukung hal itu, hanya saja jangan anarkis dengan merampas banana boat milik kami dengan menariknya hingga ke tengah laut,” katanya

Agung menambahkan, kejadian yang berlangsung sekitar jam 15.00 wib tersebut tentu saja menyulut emosi warga yang memang mata pencahariannya mengandalkan ramainya pantai.

“Kejadian perampasan sekitar jam 3 sore, sekitar jam 4 sorenya warga dan pemilik banana boat yang dirampas berkumpul dan akhirnya sepakat melakukan aksi protes terkait perampasan tersebut, kami melakukan aksi didepan pintu gerbang pasir putih hingga masuk ke dalam,” imbuhnya

Meski demikian Tyo juga mengakui, memang ada kesalahan yang dilakukan warga ketika melakukan aksi protes dengan melontarkan kata-kata kasar kepada aparat kepolisian yang kala itu tengah mengamankan.

“Kami akui telah melakukan kesalahan ketika aksi, ada beberapa warga yang melontarkan kata yang tidak pantas dan sebagainya kepada aparat yang ada dilokasi saat kejadian, untuk itu kami meminta maaf,” ungkapnya.

Adanya hal tersebut, Polairud bersama Jajaran polsek carita, perwakilan pemilik banana pantai karangsari dan pasir putih carita juga warga yang ikut aksi protes melakukan pertemuan untuk mengklarifikasi dan menyampaikan permohonan ma’af atas kejadian perampasan tersebut.

Meski saat ini banana boat yang dirampas telah dikembalikan kepada para pemilik, namun kami masih belum menerima karena pada saat minggu malam dalam pertemuan sejumlah Perwakilan Paguyuban Boat yaitu Aris dan Saepul dipanggil oleh Polairud.

“tujuan pertemuan itu dilakukan untuk mengklarifikasi kejadian perampasan banana boat oleh Polairud, pada saat malam itu juga polairud meminta ma’af kepada Tukang banana Boat, namun ada yang mengganjal karena dalam video yang dishare ke publik hanya perwakilan warga saja yakni Saepul dan Haris selaku perwakilan dari Paguyuban, sementara bagian polairud dan pihak kepolisian tidak ada,” tukasnya

Menurut Tyo, ini seperti menggiring opini masyarakat seolah-olah warga yang arogan dan salah.

“Intruksi gubernur itu kan tujuannya untuk menutup destinasi wisata, bukan merampas penunjang wisata, kenapa cuma banana boat kami Yg di rampas, sementara grobak tukang bakso dan yang lainnya tidak, itukan menjadi pertanyaan kami,” ucapnya.

Warga carita juga para pemilik banana boat berharap kepada polairud dan jajaran kepolisian carita agar bersedia menshare video permohonan ma’af secara utuh sehingga tidak ada kesalah fahaman dimasyarakat atas kejadian perampasan kemarin. (ILA)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *