Press "Enter" to skip to content

Tenaga Kerja Wanita Asal Cianjur Meninggal Dunia, Suami Akan Tuntut Hak Istrinya

CIANJUR,liputan12.com,- Kosasih (52) suami dari almarhum Imas Turoh binti Mamun Ismail (42) mengatakan, meminta pemerintah untuk membantu, agar hak istrinya yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita di Arab Saudi untuk diberikan. Sebab, pihak keluarga belum menerima keterangan sisa gaji dan uang asuransi.

“Di Arab Saudi, tidak pernah dapat surat keterangan kontrak kerja dan lainnya. Bahkan, gaji istri saya selama dua tahun lebih tidak tahu berapa sisa gaji yang belum dibayar oleh majikan,” kata Kosasih saat ditemui wartawan, di Astakira Cianjur, belum lama ini.

Kosasih yang tercatat warga Kampung Hegarmanah RT 001 RW 009 Desa Nanggala mekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengaku sangat terpukul dengan kepergian istrinya. Sebab pihak keluarga tidak mengetahui saat perawatan di Rumah sakit.

“Majikannya tidak memberi kabar istri saya sakit tau kabar meninggal juga dari tetangga yang kerja disana,” ujar dia

Dia mengungkapkan, almarhumah berangakat tahun 2018 dan meninggal dunia dirumah sakit Arapa Riyad Arab Saudi pada tanggal 29 Agustus 2020 dengan hasil keterangan medis positif terpapar covid-19. Namun pihak keluarga sampai saat ini belum mendapatkan berita acara apapun dari intansi terkait.

“Hanya ada selembaran surat dari rumah sakit saja,”ungkapnya.

Selain itu Ketua Harian DPC Astakira Cianjur, Supyan mengatakan, pihaknya menduga keberangakatan almarhumah keluar negeri menjadi Pekerja Migran ilegal. Pasalnya, sudah diberlakukannya aturan pemerintah melalui Kepmen 260 tahun 2015 tentang pengenhentian sementara(moraturium) pemberangkatan Tenaga Kerja Indonesia ke kawasan Timur Tengah.

“Kasusnya ini sudah hampir 4 bulan dan alamarhumah pun sudah dikuburkan disana. Tapi pihak keluarga belum mendapatkan hak seutuhnya,” katanya.

Jika melihat dari undang-undang no 18 tahun 2017 bahwa, pekerja migran Indonesia disamping Pelindungan harus mendapatkan haknya, seperti gaji, asuransi. Namun melihat dari keberangkatan almrhumah pihak pemeroses atau seponsor tidak bertanggungjawab.

“Kami selaku kuasa dari keluarga almarhumah akan menempuh langkah-langkah hukum sesuai aturan yang berlaku agar pihak pemeroses bertanggungjawab,” tegas Supyan.

Permasalahan seperti ini bukan kali ini saja, Astakira Cianjur sudah sering menagani permasalahan para Tenaga Keraj Wanita (TKW) yang bekerja ditimur tengah.

” Kurang lebih ada sekitar lima orang pengadu dari pihak keluarga migran yang meninggal dunia disana tapi tidak mendapatkan hak apa-pa. Maka, harap Supyan, meminta agar pemerintah daerah lebih peduli terhadap permasalahan migran di Kabupaten Cianjur.
” Saya sangat berharap sekali Pemda Cianjur lebih melek lagi terhadap pelindungan migarn,” ujar Supyan penuh harap.

Laporan : Tomi

0Shares

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

copyright@2020 liputan12.com